Pada dasawarsa 1980an dan 1990an terjadi perubahan mengejutkan di dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia. Perubahan yang paling sering disoroti media massa dan sering menjadi bahan kajian akademis ialah proses ‘kembali ke khitthah 1926’: NU menyatakan diri keluar dari politik praktis dan kembali menjadi ‘jam’iyyah diniyyah’, bukan lagi wadah politik. Dengan kata lain, sejak Muktamar Situbondo (1984) para kiai bebas berafiliasi dengan partai politik mana pun (maksudnya dengan Golkar) dan menikmati enaknya kedekatan dengan pemerintah. NU tidak lagi ‘dicurigai’ oleh pemerintah, sehingga segala aktivitasnya – pertemuan, seminar, … – tidak lagi dilarang dan malah sering ‘difasilitasi’. Perubahan tersebut, walaupun merupakan momentum penting dalam sejarah politik Orde Baru, dapat dipahami sebagai sesuai dengan tradisi politik Sunni, yang selalu mencari akomodasi dengan penguasa.
Dari Marx-isme menjadi Marsose
awal-awal pergerakan bangsa ini, setelah politik etis di jalankan, banyak organisasi-organisasi modern bermunculan. Khususnya bermunculan organisasi-organisasi modern yang berhaluan kiri. Organisasi ini tumbuh karena kebanyakan tokoh-tokoh penggeraknya mengalami dan merasakan langsung dari pusat kolonialis. Organisasi yang berhaluan kiri tersebut lambat laun menjadi sebuah organisasi yang, disamping melakukan penyadaran terhadap rakyatnya, juga melakukan perlawanan terhadap penjajah. Dari sekian banyak perlawanan
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!