<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>damailah negeriku, bangkitlah bangsaku</title>
	<atom:link href="http://bangsaku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangsaku.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Feb 2007 11:10:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bangsaku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d099e78b010ddf4c03ecc255866fb1a3?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>damailah negeriku, bangkitlah bangsaku</title>
		<link>http://bangsaku.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>BIOGRAFI Kyai Hasyim Asy`ari</title>
		<link>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/biografi-kyai-hasyim-asyari/</link>
		<comments>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/biografi-kyai-hasyim-asyari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Feb 2007 08:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/biografi-kyai-hasyim-asyari/</guid>
		<description><![CDATA[Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=8&subd=bangsaku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis <a target="_blank" href="http://www.nu.or.id/page.php"><strong>Nahdlatul Ulama</strong> </a>(<strong>NU</strong>), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.<br />
Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).</p>
<p> <span id="more-8"></span></p>
<p>Kakeknya, Kiai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.<br />
Semenjak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Hasilnya, ia diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kepandaian yang dimilikinya.<br />
Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Di pesantren Siwalan ia belajar pada Kyai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.<br />
Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy&#8217;ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah. Di sana ia berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis.<br />
Dalam perjalanan pulang ke tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy&#8217;ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy&#8217;ari memosisikan Pesantren Tebuireng, menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.<br />
Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.<br />
Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bidat. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy&#8217;ari.<br />
Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.<br />
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy&#8217;ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi <a target="_blank" href="http://www.nu.or.id/page.php">NU</a>, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.</p>
<p>Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.<br />
Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama, tetapi ditolaknya.</p>
<p>Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy&#8217;ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng.</p>
<p>Sesudah Indonesia merdeka, melalui pidato-pidatonya Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat para pemuda supaya mereka berani berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 karena pendarahan otak dan dimakamkan di Tebuireng. ►<strong>e-ti/ms-atur, </strong>dari berbagai sumber.</p>
<p>*** <strong>TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangsaku.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangsaku.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangsaku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangsaku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangsaku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangsaku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangsaku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangsaku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangsaku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangsaku.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangsaku.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangsaku.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=8&subd=bangsaku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/biografi-kyai-hasyim-asyari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53bbef337871777223ad2c6ee2c089cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Res Publica</title>
		<link>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/publik/</link>
		<comments>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/publik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Feb 2007 05:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/publik/</guid>
		<description><![CDATA[kita harus merdeka dalam pengertian diri maupun bangsa. hakekat kemerdekaan adalah KITA, baik diri mapun bangsa, mempunyai pertaruhan hidup pada bangsa ini. Apa yang mesti di- PERTARUH-kan oleh kita demi bangsa ini? Jawabnya adalah sejarah panjang bangsa ini terlalu banyak &#8220;eksperimen&#8221; dalam gerakan. Entah secara institusi maupun konstitusi, dengan banyaknya eksperimen-eksperimen  yang pernah ada. Disamping itu tentunya eksperimen idiologi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=6&subd=bangsaku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bangsaku.files.wordpress.com/2007/02/p2140061jpg-edit.jpg" title="p2140061jpg-edit.jpg"><img align="left" width="136" src="http://bangsaku.files.wordpress.com/2007/02/p2140061jpg-edit.thumbnail.jpg?w=136&#038;h=123" alt="p2140061jpg-edit.jpg" height="123" style="width:136px;height:123px;" /></a>kita harus merdeka dalam pengertian diri maupun bangsa. hakekat kemerdekaan adalah KITA, baik diri mapun bangsa, mempunyai pertaruhan hidup pada bangsa ini. Apa yang mesti di- PERTARUH-kan oleh kita demi bangsa ini? Jawabnya adalah sejarah panjang bangsa ini terlalu banyak &#8220;eksperimen&#8221; dalam gerakan. Entah secara institusi maupun konstitusi, dengan banyaknya eksperimen-eksperimen  yang pernah ada. Disamping itu tentunya eksperimen idiologi yang pernah kita impor bersama-sama. Mulai dari Marx-isme, yang gagal dalam tiga siklus organisasi. Maupun Kapitalisme yang semenjak 1954 mulai masuk lewat beberapa gelintir orang, sampai saat ini juga belum bisa membawa perubahan yang kita bayangkan bersama.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p>INDONESIA,  yang dibayangkan para pendiri republik tentang bangsa dan yang KITA bayangkan sudah melebar jauh. Dengan segala hal pernik-pernik yang menyertainya. Tetapi pada landasan yang paling asasi adalah mulai sejak dulu sampai esok adalah sama dalam memandang sebuah cita-cita bangsa ini. Bagaimana <a target="_blank" href="http://http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia"><strong>INDONESIA</strong></a> bisa merdeka, dan setara dengan negara-negara lain. Merdeka secara ekonomi, politik, hukum. Berdaulat secara pengetahuan dan budaya. Berpikir secara kenyataan sehari-hari. Untuk memahami betul siapa INDONESIA ini. Kedepannya diharapkan KITA semua menyadari tentang diri, tentang kita, tentang sesama, dan tentang bangsa&#8230;&#8230;. Mungkinkah kita masih satu lagu? INDONESIA RAYA, kata iwan fals</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangsaku.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangsaku.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangsaku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangsaku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangsaku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangsaku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangsaku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangsaku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangsaku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangsaku.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangsaku.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangsaku.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=6&subd=bangsaku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/15/publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53bbef337871777223ad2c6ee2c089cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bangsaku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bangsaku.files.wordpress.com/2007/02/p2140061jpg-edit.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">p2140061jpg-edit.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NU: jamaah konservatif yang melahirkan gerakan progresif</title>
		<link>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/nu-jamaah-konservatif-yang-melahirkan-gerakan-progresif/</link>
		<comments>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/nu-jamaah-konservatif-yang-melahirkan-gerakan-progresif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 10:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/nu-jamaah-konservatif-yang-melahirkan-gerakan-progresif/</guid>
		<description><![CDATA[Pada dasawarsa 1980an dan 1990an terjadi perubahan mengejutkan di dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia. Perubahan yang paling sering disoroti media massa dan sering menjadi bahan kajian akademis ialah proses ‘kembali ke khitthah 1926’: NU menyatakan diri keluar dari politik praktis dan kembali menjadi  ‘jam’iyyah diniyyah’, bukan lagi wadah politik. Dengan kata lain, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=5&subd=bangsaku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span>Pada dasawarsa 1980an dan 1990an terjadi perubahan mengejutkan di dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia. Perubahan yang paling sering disoroti media massa dan sering menjadi bahan kajian akademis ialah proses ‘kembali ke khitthah 1926’: NU menyatakan diri keluar dari politik praktis dan kembali menjadi  ‘<em>jam’iyyah diniyyah</em>’, bukan lagi wadah politik. Dengan kata lain, sejak Muktamar Situbondo (1984) para kiai bebas berafiliasi dengan partai politik mana pun (maksudnya dengan Golkar) dan menikmati enaknya kedekatan dengan pemerintah. NU tidak  lagi ‘dicurigai’  oleh pemerintah, sehingga segala aktivitasnya – pertemuan, seminar, &#8230; – tidak lagi dilarang dan malah sering ‘difasilitasi’. Perubahan tersebut, walaupun merupakan momentum penting dalam sejarah politik Orde Baru, dapat dipahami sebagai sesuai dengan tradisi politik Sunni, yang selalu mencari akomodasi dengan penguasa.</span></p>
<p><span><span id="more-5"></span></span></p>
<p><span><span>Tetapi terjadi perubahan lain yang lebih mengejutkan: di kalangan generasi muda NU terlihat dinamika baru dengan menjamurnya aktivitas sosial dan intelektual, yang nyaris tak tertandingi oleh kalangan masyarakat lain. Selama ini Nahdlatul Ulama dianggap ormas yang paling konservatif dan tertutup, dan sedikit sekali punya sumbangan kepada perkembangan pemikiran – baik pemikiran keagamaan maupun pemikiran sosial dan politik. Perihal pemikiran keagamaan, NU justeru didirikan sebagai wadah para kiai untuk bersama-sama bertahan terhadap gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang diwakili oleh Muhammadiyah, Al Irsyad dan Persis. NU hanya menerima interpretasi Islam yang tercantum dalam kitab kuning ‘ortodoks’, <em>al-kutub al-mu`tabarah</em>, terutama fiqh Syafi’i dan aqidah menurut madzhab Asy’ari, dan menekankan <em>taqlid</em> kepada ulama besar masa lalu. Pembaharuan pemikiran Islam, boleh dikatakan, secara prinsip bertentangan dengan sikap keagamaan NU. Dalam sikap politik dan sosial pun, NU dikenal  sangat pragmatis dan kurang orisinal. Ketika Herb Feith dan Lance Castles menyusun sebuah antologi  tentang pemikiran politik Indonesia  setelah kemerdekaan  (<em>Indonesian Political Thinking 1945-1965</em>. Cornell University Press, 1970), mereka mencantumkan tulisan dari semua aliran politik kecuali NU karena memang hampir tak ada satu pun pemikir politik NU yang menonjol saat itu.</span></span></p>
<p><span><span><!--more--></span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></p>
<p class="MsoNormal"><span>NU memang punya bobot politik yang cukup besar, karena massa yang bisa dimobilisasi dalam krisis politik. Pada zaman revolusi, dan juga pada zaman peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, orang NU telah memainkan  peranan sangat menonjol – sebagai unsur utama laskar Hizbullah dan Sabilillah pada 1945-49, dan sebagai pelaku utama pembunuhan terhadap orang-orang  PKI pada 1965-66. Berkat kekuatan fisiknya, NU memainkan peranan penting dalam perubahan politik dua masa peralihan tersebut; tetapi sumbangan penting itu tidak pernah dapat diterjemahkan menjadi pengaruh nyata dalam pemerintahan, dewan perwakilan, maupun masyarakat sipil. Dua figur NU yang paling menonjol pada masa peralihan tersebut, Wahid Hasyim dan Subchan ZE, kemudian disingkirkan (dimarginalisir) dari sistem politik; massa NU tak dilibatkan dan tetap berada di pinggiran. Tokoh NU yang bisa <em>survive</em> dekat pusat kekuasaan ialah Idham Chalid, politisi gaya lama yang tidak mewakili sikap atau ideologi tertentu dan selalu bisa beradaptasi dengan setiap perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>Perlu dicatat bahwa Kiai Idham dengan segala kelonggarannya dalam berpolitik, agaknya, lebih mewakili pendirian kiai NU ketimbang tokoh seperti Wahid Hasyim atau Subchan ZE. Para kiai di daerah tidak pernah punya ambisi mengurusi negara, membuat undang-undang atau mempengaruhi kebijaksanaan sosial dan ekonomi. Kebutuhan mereka lebih sederhana dan pragmatis: pesantren harus hidup, dan pengusaha di daerah yang mendukung kiai memerlukan tender. Dalam hal ini, Kiai Idham sangat pandai memenuhi kebutuhan daerah dan menjembatani jarak pusat – daerah melalui hubungan patronase yang ia jaminkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span>Dengan latar belakang ini, aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan ekonomi di sekitar pesantren yang mulai menjamur pada akhir dasawarsa 1970an dan 1980an, dan munculnya wacana-wacana baru, yang berani mempertanyakan interpretasi khazanah klasik yang sudah mapan dan mencari relevansi tradisi Islam untuk masyarakat yang sedang mengalami perubahan cepat, merupakan suatu perkembangan revolusioner. Baik dalam aktivitas LSM maupun dalam wacana yang berkembang, perhatian mulai bergeser dari para kiai sebagai tonggak organisasi NU kepada massa besar ‘akar rumput’ yang merupakan mayoritas jamaahnya tetapi kepentingannya selama ini lebih sering terabaikan. Dominasi aktivitas dan wacana NU oleh elit tradisional, yang terdiri dari para kiai besar pendiri NU dan keturunan mereka (‘kaum gus-gus’), telah mulai terdobrak. Sebagian besar aktivis dan pemikir muda yang memberi nuansa baru kepada NU pada dasawarsa 1980an dan 1990an tidak berasal dari ‘kasta’ kiai melainkan dari keluarga awam, yang mengalami mobilitas sosial. (Tetapi perlu juga dicatat bahwa mereka bisa muncul karena mendapat dukungan dan perlindungan dari sejumlah tokoh muda dari kalangan elit, seperti Fahmi Saifuddin, Mustafa Bisri, dan Abdurrahman Wahid.)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span><span>Perkembangan internal NU tersebut dimungkinkan oleh sejumlah faktor eksternal yang mengurangi isolasi warga NU dari masyarakat luas. Salah satu faktor penting ialah berdirinya IAIN di setiap propinsi, yang membuka peluang bagi alumni pesantren untuk meraih pendidikan tinggi. Kehidupan di kampus — kelompok diskusi, interaksi dengan mahasiswa dari latar belakang berbeda, bacaan yang luas, di samping mata kuliah beragam — kemudian membantu sebagian mereka untuk memperluas cakrawala sosial dan intelektual mereka.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span><span><span>Faktor lain ialah usaha-usaha untuk menggerakkan proyek pengembangan masyarakat melalui pesantren, yang dipelopori oleh LP3ES dan kemudian melibatkan sejumlah LSM nasional dan internasional lainnya. Dengan demikian, pesantren sedikit demi sedikit mulai ditarik ke dalam jaringan komunikasi internasional. Gerakan LSM mulai menjadi faktor penting di panggung politik internasional pada dasawarsa 1960-an. Di Indonesia, sponsor asing mulai membidani LSM pada dasawarsa 1970-an, dan gerakan LSM menjadi semakin menonjol pada dasawarsa 1980-an. Dari segi jamaah NU, menjamurnya LSM-LSM di Indonesia dapat dianggap sebagai faktor eksternal – tetapi khususnya sesudah ‘Muktamar Situbondo’ semakin banyak orang NU sendiri mulai terlibat langsung dalam aktivitas berbagai jenis LSM. Hal ini diperkuat oleh keputusan Situbondo, yang mengalihkan tenaga dan waktu sebagian besar aktivis NU dari arena politik kepada <em>syu’un ijtima’iyyah</em>, yaitu perhatian pada masalah-masalah sosial, dan kepada <em>wacana</em>, perkembangan pemikiran Islam yang ‘relevan’</span></span></span></span></span></p>
<p><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></span></span></span></span></span><span><span><span><span><span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Proses depolitisasi pada masa Orde Baru — kebijaksanaan massa mengambang, penyederhanaan sistem kepartaian, monoloyalitas pegawai negeri, ‘normalisasi’ kehidupan kampus, pemaksaan azas tunggal — membawa dampak berat juga terhadap NU. Selama dua dasawarsa pertama Orde Baru, NU merupakan satu-satunya ormas yang mempunyai akses ke akar rumput dan sekaligus aktif sebagai organisasi politik. Karena dukungan massanya, NU selama itu merupakan kekuatan politik terbesar di luar pemerintah — dan dianggap satu-satunya oposisi yang perlu diperhitungkan. Di Situbondo kekuatan politik itu dikorbankan dengan harapan akan dapat menjalin kembali hubungan mesra antara NU dan pemerintah di pusat maupun daerah. Orang boleh bertanya apakah harga depolitisasi tersebut tidak terlalu mahal. Tetapi perkembangan pemikiran dan kegiatan sosial yang menjadi begitu menonjol pada limabelas tahun berikutnya, agaknya, tidak akan mungkin terjadi andaikata tidak ada keputusan Situbondo. Perkembangan tersebut juga tidak lepas dari peranan Abdurrahman Wahid, yang telah memberi contoh dan rangsangan kepada banyak aktivis dan pemikir muda, dan dengan karisma sebagai cucu para pendiri NU sempat melindungi mereka dari kritik kalangan konservatif.</span></p>
<p><span></span><span></span><span></span><span></span><span></span><span></span><span></span><span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Penarikan diri NU dari politik praktis membawa keuntungan dan kerugian sekaligus, baik bagi NU sebagai organisasi maupun bagi orang-orangnya. Kalau dulu patronase (dalam bentuk bantuan dari pemerintah dan berbagai macam fasilitas) mengalir melalui organisasi NU, dari PBNU ke wilayah dan cabang, setelah keputusan Situbondo setiap kiai bebas menjalin hubungan dengan bupati atau gubernur. Dengan demikian, pengaruh pengurus pusat terhadap warga di daerah menurun drastis, dan sebagai organisasi NU kehilangan sanksi efektif untuk memaksakan loyalitas warganya. Akibatnya, NU tidak berbicara dengan satu suara lagi dalam perkara sosial dan politik yang penting, dan dengan  begitu bobotnya sebagai <em>moral force</em> dalam sistim politik Indonesia pun hilang. Pada hemat saya, keuntungan terpenting dari depolitisasi – di samping keuntungan perseorangan yang diperoleh  para kiai dan pengusaha lokal yang menikmati kembali hubungan mesra dengan pemerintah daerah – ialah berkembangnya intelektualisme dan aktivitas sosial yang merupakan pokok utama buku ini.</span></p>
<p><span></span><span></span><span></span><span></span><span></span><span></span><span></span><span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pembaharuan pemikiran Islam selama ini terjadi terutama di kalangan modernis, sedangkan NU dianggap mandeg dan hanya mendaur ulang pemikiran lama. Sejumlah tokoh gerakan pembaharuan Islam tahun 1970-an memang punya latar belakang keluarga berkultur NU, tetapi mereka sudah melepaskan ikatan dengan budaya pesantren dan bersosialisasi di HMI. Pada awal tahun 1990-an situasi telah banyak berubah dan perkembangan pemikiran yang paling menarik dan paling berani justeru terjadi di kalangan generasi muda NU. Banyak kaum modernis terpelajar telah menjadi pejabat atau pegawai negeri, sedangkan sebagian besar orang NU berada di luar sistim pemerintahan. ICMI telah menjadi simbol dan sekaligus ekspresi kedekatan para sarjana modernis dengan pemerintah. Dengan mendirikan Forum Demokrasi, Abdurrahman Wahid mengilhami banyak generasi muda NU untuk bersikap kritis terhadap negara dan kebijaksanaan pemerintah, dan untuk lebih terbuka terhadap kalangan lain, termasuk non-Islam dan kiri. Di samping kitab kuning dan Qutb atau Qaradhawi, mereka mencari ilham dari teologi pembebasan, ilmu sosial, pemikiran sosialis, cendekiawan Muslim seperti Hassan Hanafi, dan penulis-penulis <em>posmo</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span>Selama Abdurrahman Wahid berada dalam opposisi terhadap pemerintah, gerakan progresif NU ini menganggapnya sebagai contoh dan pengayom mereka. Tetapi ketika ia kembali menjalin hubungan baik dengan Suharto dan membawa Tutut keliling ke pesantren menjelang pemilu 1997, mereka terpaksa menentukan sikap mereka sendiri dan mengambil jarak dari figur Gus Dur. Berdirinya PKB sebagai wadah politik baru warga NU, dan kemudian terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia merupakan tantangan lebih berat bagi gerakan progresif NU. Mereka harus memilih antara arena politik praktis dan ‘perjuangan di jalur kultural’ yang telah menjadi ciri khas mereka. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Penulis buku ini, saudara Laode Ida, sudah cukup lama memperhatikan dinamika pemikiran, percaturan politik dan konflik antar-kelompok di dalam NU. Dari tulisan pertamanya yang saya baca, saya terkesan dengan pegamatan dan analisanya yang jitu. Buku ini merupakan kajian penting tentang evolusi gerakan progresif NU, sejak kemunculannya pada pertengahan dasawarsa 1980-an hingga masa kepresidenan Abdurrahman Wahid. Ini bukan kajian pertama tentang gerakan tersebut,  – di antara sejumlah karya lain, dua karya berharga, yang layak diperhatikan, ialah ‘potret diri’ anak muda NU yang disusun oleh Hairus Salim dan Muhammad Ridwan, dan disertasi Djohan Effendi tentang wacana dan aktivisme mereka<a name="_ftnref1" href="http://bangsaku.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference">[1]</span></a> – tetapi ia menyajikan sumbangan baru yang penting. Kajian Laode Ida ini meletakkan gerakan progresif ini dalam konteks konflik politik internal NU dan perubahan politik pada masa akhir Suharto dan pasca Suharto, dan ia menunjukkan suatu segi dinamika NU yang sering terlupakan pada masa sekarang karena perhatian pengamat  lebih banyak difokuskan pada manuver politik para kiai dan politisi. Pada masa sekarang, semua partai politik dan semua calon presiden memandang NU sebagai gudang suara terbesar di Indonesia. Para kiai dikunjungi oleh berbagai politisi dan memainkan peranan penting dalam bargaining politik. Keputusan Situbondo seperti terlupakan, permainan politik praktis kelihatannya kembali menjadi obsesi utama para tokoh NU. Buku ini menunjukkan bahwa di bawah  permukaan yang sangat politis ini, gerakan-gerakan progresif tetap bertahan dalam sikapnya yang peduli pada  masalah-masalah rakyat kecil dan kritis terhadap pemimpin politik, termasuk yang dari NU sendiri. Karya ini merupakan dokumen penting, yang akan menjadi salah satu dari sejumlah kecil buku dasar tentang NU dan masyarakat Indonesia.  </span></p>
<p><span><span><span>Martin van Bruinessen</span></span></span></p>
<p></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangsaku.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangsaku.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangsaku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangsaku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangsaku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangsaku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangsaku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangsaku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangsaku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangsaku.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangsaku.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangsaku.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=5&subd=bangsaku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/nu-jamaah-konservatif-yang-melahirkan-gerakan-progresif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53bbef337871777223ad2c6ee2c089cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Marx-isme menjadi Marsose</title>
		<link>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/dari-marx-isme-menjadi-marsose/</link>
		<comments>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/dari-marx-isme-menjadi-marsose/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 09:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/dari-marx-isme-menjadi-marsose/</guid>
		<description><![CDATA[awal-awal pergerakan bangsa ini, setelah politik etis di jalankan, banyak organisasi-organisasi modern bermunculan. Khususnya bermunculan organisasi-organisasi modern yang berhaluan kiri. Organisasi ini tumbuh karena kebanyakan tokoh-tokoh penggeraknya mengalami dan merasakan langsung dari pusat kolonialis. Organisasi yang berhaluan kiri tersebut lambat laun menjadi sebuah organisasi yang, disamping melakukan penyadaran terhadap rakyatnya, juga melakukan perlawanan terhadap penjajah. Dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=3&subd=bangsaku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>awal-awal pergerakan bangsa ini, setelah politik etis di jalankan, banyak organisasi-organisasi modern bermunculan. Khususnya bermunculan organisasi-organisasi modern yang berhaluan kiri. Organisasi ini tumbuh karena kebanyakan tokoh-tokoh penggeraknya mengalami dan merasakan langsung dari pusat kolonialis. Organisasi yang berhaluan kiri tersebut lambat laun menjadi sebuah organisasi yang, disamping melakukan penyadaran terhadap rakyatnya, juga melakukan perlawanan terhadap penjajah. Dari sekian banyak perlawanan</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangsaku.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangsaku.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangsaku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangsaku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangsaku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangsaku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangsaku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangsaku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangsaku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangsaku.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangsaku.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangsaku.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=3&subd=bangsaku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/dari-marx-isme-menjadi-marsose/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53bbef337871777223ad2c6ee2c089cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/hello-world/</link>
		<comments>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 07:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangsaku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=1&subd=bangsaku&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bangsaku.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bangsaku.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bangsaku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bangsaku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bangsaku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bangsaku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bangsaku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bangsaku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bangsaku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bangsaku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bangsaku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bangsaku.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bangsaku.wordpress.com&blog=780098&post=1&subd=bangsaku&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangsaku.wordpress.com/2007/02/14/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53bbef337871777223ad2c6ee2c089cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bangsaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>