BIOGRAFI Kyai Hasyim Asy`ari

Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

  (lebih…)

Published in: on Februari 15, 2007 at 8:49 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Res Publica

p2140061jpg-edit.jpgkita harus merdeka dalam pengertian diri maupun bangsa. hakekat kemerdekaan adalah KITA, baik diri mapun bangsa, mempunyai pertaruhan hidup pada bangsa ini. Apa yang mesti di- PERTARUH-kan oleh kita demi bangsa ini? Jawabnya adalah sejarah panjang bangsa ini terlalu banyak “eksperimen” dalam gerakan. Entah secara institusi maupun konstitusi, dengan banyaknya eksperimen-eksperimen  yang pernah ada. Disamping itu tentunya eksperimen idiologi yang pernah kita impor bersama-sama. Mulai dari Marx-isme, yang gagal dalam tiga siklus organisasi. Maupun Kapitalisme yang semenjak 1954 mulai masuk lewat beberapa gelintir orang, sampai saat ini juga belum bisa membawa perubahan yang kita bayangkan bersama.

(lebih…)

Published in: on Februari 15, 2007 at 5:32 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

NU: jamaah konservatif yang melahirkan gerakan progresif

Pada dasawarsa 1980an dan 1990an terjadi perubahan mengejutkan di dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia. Perubahan yang paling sering disoroti media massa dan sering menjadi bahan kajian akademis ialah proses ‘kembali ke khitthah 1926’: NU menyatakan diri keluar dari politik praktis dan kembali menjadi  ‘jam’iyyah diniyyah’, bukan lagi wadah politik. Dengan kata lain, sejak Muktamar Situbondo (1984) para kiai bebas berafiliasi dengan partai politik mana pun (maksudnya dengan Golkar) dan menikmati enaknya kedekatan dengan pemerintah. NU tidak  lagi ‘dicurigai’  oleh pemerintah, sehingga segala aktivitasnya – pertemuan, seminar, … – tidak lagi dilarang dan malah sering ‘difasilitasi’. Perubahan tersebut, walaupun merupakan momentum penting dalam sejarah politik Orde Baru, dapat dipahami sebagai sesuai dengan tradisi politik Sunni, yang selalu mencari akomodasi dengan penguasa.

(lebih…)

Published in: on Februari 14, 2007 at 10:14 am  Comments (3)  

Dari Marx-isme menjadi Marsose

awal-awal pergerakan bangsa ini, setelah politik etis di jalankan, banyak organisasi-organisasi modern bermunculan. Khususnya bermunculan organisasi-organisasi modern yang berhaluan kiri. Organisasi ini tumbuh karena kebanyakan tokoh-tokoh penggeraknya mengalami dan merasakan langsung dari pusat kolonialis. Organisasi yang berhaluan kiri tersebut lambat laun menjadi sebuah organisasi yang, disamping melakukan penyadaran terhadap rakyatnya, juga melakukan perlawanan terhadap penjajah. Dari sekian banyak perlawanan

Published in: on Februari 14, 2007 at 9:43 am  Comments (1)  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on Februari 14, 2007 at 7:55 am  Comments (1)  
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.